Tadi pagi saya membaca harian Bisnis Indonesia. Suku Bunga BI akan Turun !!!! wah kalau memang jadi kenyataan tentunya itu sangat menggembirakan. Karena akhir tahun lalu saya sempat bertanya pada petugas Bank dan menurut dia suku bunga KPR pada bank tersebut 16%.
Mudah-mudahan saja dengan suku bunga yang tidak terlalu tinggi akan meningkatkan pertumbuhan dunia usaha di Indonesia.
Bagaimana, anda minat untuk expansi usaha anda ?? semoga berhasil!
Berita lengkap saya kutipkan dari harian bisnis indonesia :
Rezim bunga tinggi berakhir
BI Rate turun signifikan
JAKARTA: Bank Indonesia memangkas suku bunga BI Rate 50 basis poin menjadi 8,75%, penurunan terbesar sejak Desember 2006. Para bankir berjanji sebulan lagi akan memotong bunga kredit dengan besaran yang sama.
Gubernur Bank Indonesia Boediono, dalam jumpa pers seusai rapat dengan tujuh koleganya, menyatakan peluang penurunan lanjutan masih terbuka. Ini karena proyeksi inflasi pada tahun ini 5%-7%.
“Kalau ekspektasi inflasinya mendekati 5%, saya kira ruang masih ada. Jadi, bergantung pada perkembangan. Cara kami mengambil keputusan itu harus jadi yang terbaik,” ujarnya.
Boediono menjelaskan keputusan menurunkan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 8,75% atas dasar evaluasi kondisi ekonomi dan moneter di dalam dan luar negeri serta prospeknya pada 2009.
Dia mengatakan dalam beberapa bulan terakhir ini tekanan inflasi di dalam negeri terus menurun.
Pekan ini, Badan Pusat Statistik mengumumkan terjadinya deflasi 0,04% pada Desember 2008. Akibatnya, inflasi tahun kalender 2008 mencapai 11,06%, lebih baik dari target pemerintah sebesar 11,4%.
Penurunan BI Rate terjadi berturut-turut dalam dua bulan terakhir ini setelah bunga terus menanjak sejak Mei 2008 akibat tekanan inflasi, menyusul keputusan pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak bersubsidi.
Sejak BI Rate mulai digunakan sebagai bunga acuan pada Juli 2005, penurunan terbesar dalam sebuah rapat dewan gubernur hanya 50 basis dan baru lima kali terjadi. Kenaikan tertinggi sebesar 100 basis poin terjadi sekali pada Oktober 2005. Selebihnya, kenaikan atau penurunan hanya pada level 25 basis poin.
Ekonom Bank Danamon Anton H. Gunawan menilai penurunan BI Rate sebesar itu menunjukkan siklus suku bunga sudah berbalik arah.
Wakil Dirut BCA Jahja Setiaatmadja mengatakan sekitar satu bulan lagi bunga kredit bisa turun 50 basis poin, sedangkan bunga dana bisa dikoreksi sebesar 25 hingga 50 basis poin.
Hal senada juga dikatakan Direktur Bank Bukopin Agus Hernawan. “Bank akan menyesuaikan lagi biaya dana untuk kemudian memangkas bunga kredit. Kami secepatnya akan menggelar rapat Alco [asset and liabilities committee] untuk itu,” tuturnya kepada Bisnis, kemarin.
Namun, Mansyur S. Nasution, EVP Coordinator Consumer Finance Bank Mandiri, mengatakan penurunan bunga kredit masih bergantung pada struktur dana setiap bank. “Makin besar dana murah sebuah bank, makin cepat pula penurunan bunga kredit dilakukan.”
Dari sisi lain, Direktur Bank CIMB Niaga Chaterine Hadiman melihat penurunan bunga dana sangat bergantung pada kondisi likuiditas pasar. “Bila likuiditas terbatas tetap terjadi big gap antara BI Rate dan tingkat bunga deposito,” tutur Chaterine.
Beberapa debitor yang dihubungi Bisnis berharap agar bunga kredit rumah mereka segera diturunkan mengikuti BI Rate. Namun, Yeni, karyawan swasta, ragu bank melakukan hal itu, mengingat tabiat mereka tidak juga berubah. “Biasanya buru-buru menaikkan, tapi suka lupa nurunin.”
Karena itu, Ketua Umum Kadin Indonesia M.S. Hidayat meminta agar BI aktif mendorong penyesuaian bunga kredit. Menurut dia, penurunan bunga kredit dengan cepat sangat diperlukan untuk menjaga daya saing industri domestik.
Rupiah menguat
Dari pasar keuangan, rupiah menguat saat bunga acuan dipangkas. Hingga pukul 21.00 WIB tadi malam, rupiah berada pada level Rp10.805/US$, menguat Rp285 dari perdagangan pagi.
Namun, indeks harga saham gabungan justru melemah 14,07 poin ke level 1.421,47, berbalik arah dari penutupan siang di level 1.463,59, menyusul aksi jual terkait dengan penurunan BI Rate.
Pemangkasan BI Rate ditimpali oleh aksi jual saham perusahaan sektor keuangan, infrastruktur, dan konstruksi, sehingga indeks sektor-sektor tersebut turun 1,77%, 3,65%, dan 2,78%.
Dari transaksi Rp4,89 triliun, investor asing melakukan penjualan bersih senilai Rp1,57 triliun. Sebanyak 56 saham naik, 96 saham turun, dan 60 saham stagnan. (hery. trianto@bisnis.co.id)
Filed under: Banking | Leave a Comment »